TADZKIROH
Dari Abu Hurairah رضي اللّٰه عنه berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِي مَالِي إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ
مَا أَكَلَ فَأَفْنَى
أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى
أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ
فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ
“Manusia berkata,
‘Hartaku, hartaku,
Sesungguhnya hartanya ada tiga:
1. Yang ia makan lalu ia habiskan
2. Yang ia pakai lalu ia usangkan
3. Yang ia berikan (sedekahkan)
lalu ia miliki,
selain itu akan lenyap dan akan ia tinggalkan untuk manusia.”
(HR. Muslim no. 5259)
☝Itulah hakikat harta kita.
Dahulu ada seorang ulama salaf yang selalu bersedekah, ketika dikatakan kepadanya, "Kamu terlalu dermawan." Ia menjawab, "Justru aku pelit dengan hartaku,
karena aku ingin hartaku ini menjadi milikku untuk selama lamanya sampai di akherat."
✔ Harta kekayaan yang terbaik yang kita miliki adalah kekayaan hati kita dengan selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepadanya.
Rosulullah ﷺ bersabda,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ،
وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.”
(HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Inilah yang dikatakan ulama:
غِنَى النَّفْس مَا يَكْفِيك مِنْ سَدّ حَاجَة
فَإِنْ زَادَ شَيْئًا عَادَ ذَاكَ الْغِنَى فَقْرًا
“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati)
[Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/272, Darul Ma’rifah]
Rosulullah ﷺ pun meminta
AL-GHINA (kaya)
INILAH DOA ROSULULLAH ﷺ
Dari Ibnu Mas’ud رضي اللّٰه عنه,
beliau berkata,
أنَّ ﷺ كَانَ يقول :
اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى والتُّقَى والعَفَافَ والغِنَى
Nabi ﷺ biasa membaca do’a:
Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina
(HR. Muslim no. 2721).
An Nawawi رحمه اللّٰه mengatakan, “Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.”[Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/41]
Semoga bermanfaat
[09:02, 1/16/2018] Didin Ustadz: ⚠💦 SEBELUM TIBA PENYESALAN🔥🔥🔥
➖➖➖➖
📖 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
🍃 "Hingga apabila datang kepada seorang dari mereka kematian, lalu ia pun berkata, 'Tuhanku, kembalikan aku ke dunia.." (QS. Al-Mukminun:99)
📝 Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah menjelaskan,
〽 "Allah Ta'ala menceritakan tentang orang yang sedang sakarotul maut dari kalangan pendosa lagi zhalim
💦 Di saat itu ia menyesal ketika melihat tempat kembalinya dan menyaksikan amal buruknya.
🔻 Sehinggai ia meminta dikembalikan ke dunia,
💢 bukan untuk bersenang-senang dengan kelezatannya atau menumpahkan syahwatnya..
🔺 Namun katanya,
{لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ}
"Agar aku dapat melakukan amal shalih yang dahulu aku tinggalkan."
➖➖➖➖➖
✳ Sebelum datang penyesalan itu, marilah kita perbanyak melakukan amal shalih.
➖➖➖➖➖
🌍 Lihat Tafsir as-Sa'di hal.559
📝 Oleh: Tim Warisan Salaf
#Fawaidumum #tafsir #penyesalan #taubat #ibadah
〰〰➰〰〰
Disunting Dari :
📲 @warisansalaf
○○○○○○○○○○○○○○○○○○
Turut Menyebarkan :
🚇Group WA & Telegram :
🌴 @InginKenalSunnah
📮Klik "JOIN" https://goo.gl/Op9xa4
[11:00, 1/16/2018] Didin Ustadz: Pahala Membunuh Cicak
Cicak termasuk hewan fasik. Siapa yang membunuh cicak ternyata bisa raih pahala.
Hewan yang digolongkan hewan fasik dan juga diperintahkan untuk dibunuh adalah cicak atau tokek. Hal ini berdasarkan hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh, beliau mengatakan,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh tokek, beliau menyebut hewan ini dengan hewan yang fasik” (HR. Muslim, no. 2238). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Shahih Muslim dengan judul Bab “Dianjurkannya membunuh cicak.”
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ
“Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan, dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua.” (HR. Muslim, no. 2240)
Dari Ummu Syarik –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata,
عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ – رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ « كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ »
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, “Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari, no. 3359)
Kata Imam Nawawi, dalam satu riwayat disebutkan bahwa membunuh cicak akan mendapatkan 100 kebaikan. Dalam riwayat lain disebutkan 70 kebaikan. Kesimpulan dari Imam Nawawi, semakin besar kebaikan atau pahala dilihat dari niat dan keikhlasan, juga dilihat dari makin sempurna atau kurang keadaannya. Seratus kebaikan yang disebut adalah jika sempurna, tujuh puluh jika niatannya untuk selain Allah. Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 14: 210-211)
Semoga bermanfaat.
—
Sumber : https://rumaysho.com/13360-pahala-membunuh-cicak.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar