Kamis, 18 Januari 2018

Wasiat Berharga untuk setiap muslim tentang waktu

WASIAT BERHARGA
UNTUK SETIAP MUSLIM


كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jadilah engkau (hidup) di dunia ini seakan-akan seperti orang asing atau orang yang safar
(orang yang melakukan perjalanan).”

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ، يَقُولُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ المَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Ibnu Umar berkata:
“Apabila engkau berada di waktu sore maka jangan tunggu waktu pagi dan apabila engkau berada di waktu pagi maka jangan menunggu waktu sore, manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.”
(HR. al-Bukhari no. 6416)

Sungguh, ini merupakan untaian kata yang sangat indah dan ringkas dari Rasulullah ﷺ, yang di dalamnya terkandung banyak pelajaran berharga dan akan menjadi pedoman bagi kita semua di dalam menjalani kehidupan dunia.

Orang asing adalah seorang yang tinggal di sebuah negeri yang bukan negeri asalnya karena adanya suatu urusan maka diapun akan bersiap-siap untuk berangkat dari negeri tersebut kapan saja urusannya selesai dan kembali ke negeri asalnya,

Adapun orang yang safar adalah orang yang sedang melakukan suatu perjalanan yang melewati berbagai negeri dan tidak bermukim pada negeri yang dia lewati sampai dia menyelesaikan perjalanannya.
Maka negeri asing dan negeri yang dilewati adalah sebagai permisalan dunia, sementara keberangkatan atau perjalanannya adalah menuju akhirat.

Yang demikian ini bisa dilakukan dengan cara mengingat kematian, mengurangi angan-angan dan mempersiapkan diri menuju akhirat dengan melakukan amalan saleh.
(Lihat Fathul Qowi al-Matin hal. 131-132)

Dalam hadits ini Rasulullah ﷺ memberikan bimbingan dan arahan untuk menjadikan dan menempatkan jiwa pada keadaan seperti orang asing atau orang yang safar.
(Lihat Subulus Salam juz 2, hal. 645)

Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i Rahimahullah mengatakan,

“Makna hadits ini adalah janganlah engkau condong kepada dunia, jangan menjadikannya sebagai tempat tinggal yang permanen dan jangan sampai jiwamu membisikkan kepadamu untuk tinggal selama-lamanya di dunia serta jangan sampai engkau bergantung kepadanya sebagaimana orang asing yang tidak bergantung kepada selain negeri asalnya.”
(Lihat Fathul Bari juz 11, hal. 234)

📝 Faidah didapat dari :
      buletin-alilmu.net

Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar